One other great movie …
Satu lagi film bermutu yang saya tonton bulan ini. Actually, rada mirip siy temanya ama Garuda Di Dadaku, anak-anak, persahabatan, nasionalis dan semangat pantang menyerah. Kalau di film sebelumnya Alenia Pictures mengangkat tema sepak bola, kali ini badminton yang jadi fokus cerita.
Berkisah tentang Guntur, seorang anak yang dituntut ayahnya menjadi pemain Badminton hebat seperti sang idola, Lim Swie King. Mirip dengan kisah hidup sang idola, Guntur yang hidup di dilatih sang ayah dengan keras. Ia pun bersemangat mengikuti segala perintah sang ayah, bahkan sampai menjuarai turnamen badminton antar SD di daerahnya.
Dukungan 2 sahabatnya – Raden dan Michelle – pada Guntur, membuat ia masuk dalam suatu klub bulu tangkis yang mengantarnya memperoleh beasiswa PB DJarum dan mempertemukannya dengan sang Idola – Lim Swie King – yang ternyata memiliki nama kecil yang sama dengan namanya. Latihan keras, kerendahan hati dan semangat pantang menyerah mengantarnya menjadi Juara Kejuaran Bulu Tangkis Yunior se-Asia.
Two thumbs up buat niy film. Sinematografi mantap dengan memperlihatkan keindahan kawah ijon, lokasi pembuatan film ini. Keindahan persahabatan Raden dan Guntur, ide-ide gila Raden yang terkadang malah berujung masalah menyajikan suatu pesan moral yang sangat jelas sehingga mudah dimengerti oleh anak-anak tapi juga bermanfaat buat orang dewasa. Kasih sayang seorang Ayah yang keras dan sempat menimbulkan kemarahan sang anak, menjadi konflik yang meramu film ini menjadi cukup mengharukan.
Kehadiran maestro Bulu Tangkis Lim Swie King, Haryanto Arbi, Hastomo Arbi, Ivana Lie, dan atlit-atlit PB Djarum lain memberikan nilai tambah bagi film ini. Apalagi Haryanto Arbi sempat ikut berperan di film ini.
Nasionalis banget …. lantunan musik Tanah Air dan lagu Indonesia Raya sebagai penutup film benar-benar memperlihatkan semangat nasionalisme.
Sedikit catatan, saya merasa perjuangan Guntur dari mulai ikut serta dalam seleksi beasiswa hingga akhirnya menjadi Juara terlalu sedikit diulas. Porsi terbesar adalah masa perjuangannya sebelum bergabung di PB Djarum. Kayaknya klo porsinya dibikin seimbang bakalan lebih seru
.
Filed under: d' eVEnt on mE | Tagged: Film, Opini, resensi

Wew Alenia produced 2 movies for this summer?! Cool!