Sebatang pensil, sebuah hadiah bermakna …
Aku tersenyum bahagia melihat engkau datang membawa hadiah yang telah sejak tadi aku tunggu. Hari ini ulang tahunku. Engkau pasti akan memberiku sebuah hadiah spesial seperti biasanya.
Dengan tak sabar, kubuka kotak mungil yang baru saja berpindah ke tanganku. Mmm .. apa ya ini ? tanyaku tak sabar.
Ada gurat kecewa yang tiba-tiba hadir di wajahku, begitu hadiah mungil itu terbuka. Sebatang Pensil yang sangat biasa. Aku mendongak, mencoba mencari jawaban dari senyummu yang masih terkembang. Mengapa hanya sebatang pensil ?
“Tuliskan kisah hidupmu dengan ini, nak.” Jawabmu, seakan bisa membaca pertanyaan yang sedang menari di benakku.
Sulit sekali bagi jiwa kecilku mengerti apa yang baru saja kau ucapkan. Batinku masih menolak. Mengapa hanya sebatang pensil. Bukankah pensil itu tidak menarik karena warnanya yang monoton dan tidak indah.
“Mengapa bukan pena atau spidol ?”
Tanyaku waktu itu … Bukankah pena dan spidol juga bisa dipakai untuk menulis, pikirku. Bahkan hasilnya akan lebih indah. Warnanya lebih beraneka ragam. Juga lebih bagus. Jauh lebih baik bukan?
Bertahun-tahun setelah itu, aku menemukan seseorang yang mengisi hari-hariku dengan nuansa yang sangat berwarna. Aku pun sudah mulai melupakan tentang hadiah pensil yang pernah kau berikan. Sampai suatu saat, ketika aku memperkenalkan dia padamu … engkau tiba-tiba mengingatkan ku kembali dengan sebatang pensil itu ..
“Kejarlah kebahagiaanmu, nak. Tapi tetap gunakan pensil untuk menulis kisahmu”
Kali ini, tak bisa kutahan diriku untuk bertanya …
“Kenapa harus pensil, Yah ?”
Senyum bijak tersungging di bibirmu,
“Karena, dengan menulis menggunakan pensil, membuatmu memiliki kesempatan untuk menghapus semua langkah salah yang pernah kau buat …
Menulis menggunakan pensil, membuatmu dengan cepat bisa menghapus semua kecewa dan rasa sakit yang kau rasakan dalam hidupmu tanpa meninggalkan jejak, agar nanti dapat kau gantikan dengan kisah yang lebih indah”
Terima kasih karena telah memberiku sebatang pensil dan mengingatkanku untuk menulis kisah hidupku dengan menggunakan pensil itu. Karena, ketika pada akhirnya ketika dia menorehkan luka dan rasa kecewa pada hatiku, aku dapat segera menghapusnya dan menggantikannya dengan cerita baru.
Titiran, April 18th 2010
Taken from my personal note
