Archive

Posts Tagged ‘Film’

Emak Ingin Naik Haji … sebuah ceita sederhana

November 16, 2009 Widya Leave a comment

film21751 Gw baru saja balik dari BIP habis nonton film judulnya sederhana : “Emak Ingin Naik Haji”. Resensi Singkatnya bisa dilihat di sini.

Filmnya biasa, temanya juga tidak terlalu unik. Alurnya juga tidak begitu mengejutkan. Semuanya terasa biasa dan sederhana. Kisah ini pun berkisah tentang kesederhanaan. Seorang ibu tua yang memiliki keinginan yang mungkin cukup sederhana bagi segelintur orang berkecukupan di luar sana -NAIK HAJI-. Intinya semua tentang film ini begitu sederhana.

Tapi kesederhanaan itu juga yang bikin air mata gw ga berhenti mengalir tatkala emak begitu antusiasnya melihat gambar-gambar kota mekkah, tatkala emak mengaji lirih, ketika zein -sang anak- sujud syukur sewaktu emak menang undian dan malah beujung kegagalan berangkat karena zein mengalami kecelakaan, sewaktu emak dengan ikhlasnya mengatakan walaupun raganya tidak pernah mencapai mekkah, namun ia percaya Allah tau bahwa hatinya sudah lama sampai ke kota kelahiran Rasulullah itu, bahkan juga ketika pada akhirnya emak dan zein memperoleh anugrah untuk memenuhi panggilan Allah untuk pegi berhaji. Air mata ini juga susah dikendalikan ketika dengan ikhlasnya emak memberi makan tetangganya yang butuh makan, memberikan uangnya yang sudah direncanakan untuk berhaji kepada mantan menantunya ketika cucunya sakit, dan ketika alunan Labbaikallah Humma Labbaik seringkali dikumandangkan dengan indah dalam beberapa adegan.

Entah karena emang gw sedang dalam kondisi emosional atau memang film ini yang sangat sukses menyentuh hati gw, gw bener-bener tersentuh dengan film ini. Apalagi gw juga sedang berikhtiar hal yang tak jauh berbeda dengan zein, ikut ‘mengantarkan’ kedua orang tua gw menyempurnakan rukun islam mereka. Banyak hal yang gw pelajari, terutama tentang kesederhanaan dan keihklasan. Juga tentang ‘pengendalian nafsu’ untuk beribadah (in my opinion, Ibadah Haji yang wajib cuma sekali, jika sudah pernah berhaji, alangkah lebih baik jika kita memberikan kesempatan kepada orang lain daripada ikut berebut kuota dengan orang yang memang lebih membutuhkan) dan tentang makna ibadah itu sendiri. Pelajaran lain yang gw dapat adalah bahwa untuk setiap bibit kebaikan dan keikhlasan yang kita tanam, kita jualah yang nantinya memanen hasilnya

Gw acungin 4 jempol untuk film sederhana yang mampu mengetuk hati dan membuat gw lebih bersemangat mewujudkan ikhtiar gw.

and the film called “King”

June 30, 2009 Widya 1 comment

KingOne other great movie …

Satu lagi film bermutu yang saya tonton bulan ini.  Actually, rada mirip siy temanya ama Garuda Di Dadaku, anak-anak, persahabatan, nasionalis dan semangat pantang menyerah. Kalau di film sebelumnya Alenia Pictures mengangkat tema sepak bola, kali ini badminton yang jadi fokus cerita.

Berkisah tentang Guntur, seorang anak yang dituntut ayahnya menjadi pemain Badminton hebat seperti sang idola, Lim Swie King. Mirip dengan kisah hidup sang idola, Guntur yang hidup di dilatih sang ayah dengan keras. Ia pun bersemangat mengikuti segala perintah sang ayah, bahkan sampai menjuarai turnamen badminton antar SD di daerahnya.

Dukungan 2 sahabatnya – Raden dan Michelle – pada Guntur, membuat ia masuk dalam suatu klub bulu tangkis yang mengantarnya memperoleh beasiswa PB DJarum dan mempertemukannya dengan sang Idola – Lim Swie King – yang ternyata memiliki nama kecil yang sama dengan namanya. Latihan keras, kerendahan hati dan semangat pantang menyerah mengantarnya menjadi Juara Kejuaran Bulu Tangkis Yunior se-Asia.

Two thumbs up buat niy film. Sinematografi mantap dengan memperlihatkan keindahan kawah ijon, lokasi pembuatan film ini. Keindahan persahabatan Raden dan Guntur, ide-ide gila Raden yang terkadang malah berujung masalah menyajikan suatu pesan moral yang sangat jelas sehingga mudah dimengerti oleh anak-anak tapi juga bermanfaat buat orang dewasa. Kasih sayang seorang Ayah yang keras dan sempat menimbulkan kemarahan sang anak, menjadi konflik yang meramu film ini menjadi cukup mengharukan.

Kehadiran maestro Bulu Tangkis Lim Swie King, Haryanto Arbi, Hastomo Arbi, Ivana Lie, dan atlit-atlit PB Djarum lain memberikan nilai tambah bagi film ini. Apalagi Haryanto Arbi sempat ikut berperan di film ini.

Nasionalis banget …. lantunan musik Tanah Air dan lagu Indonesia Raya sebagai penutup film benar-benar memperlihatkan semangat nasionalisme.

Sedikit catatan, saya merasa perjuangan Guntur dari mulai ikut serta dalam seleksi beasiswa hingga akhirnya menjadi Juara terlalu sedikit diulas. Porsi terbesar adalah masa perjuangannya sebelum bergabung di PB Djarum. Kayaknya klo porsinya dibikin seimbang bakalan lebih seru :D .

Categories: d' eVEnt on mE Tags: , ,

Garuda di Dadaku

June 30, 2009 Widya 3 comments

film20921m

Great Movie …

Kisah seorang anak pencinta sepak bola bernama bayu yang ditentang habis-habisan oleh sang kakek yang anti sepak bola. Nasib kurang baik ayah si anak yang terbuang dari dunia sepak bola karena cedera dan menghabiskan sisa hidupnya menjadi supir taksi serta kurang baiknya track record pesepakbola negeri ini, membuat sang kakek melarang si anak berhubungan dengan apapun terkait sepak bola. Malahan kakeknya mengarahkannya untuk les lukis dan musik yang sama sekali tidak ia sukai

Bakat Bayu dapat dilihat dengan baik oleh sahabatnya Heri, yang juga mencintai sepak bola namun harus mengubur mimpinya menjadi pemain sepak bola karena lumpuh sejak kecil. Dengan support yang besar dari Heri -dibantu supirnya-, Bayu berhasil lolos seleksi TimNas U-13 dan berhasil meluluhkan hati sang kakek.

Cerita menghibur dan bermutu. Ciri khas yang susah ditemui di Film Indonesia. Heri yang selalu optimis, penuh ide-ide dan tak kenal menyerah memberikan semangat pada Bayu menjadi nilai plus bagaimana indahnya persahabatan yang terjalin di antara mereka. Berbagai adegan kocak Bayu, Heri dan supirnya memberikan hiburan lebih pada film ini.

Nilai plus Garuda Di Dadaku menjadi lebih lengkap dengan kepintaran Bayu mengocek bola. Keseriusan Tim Produksi yang menemukan sosok pemeran Bayu pada seorang anak berbakat yang sekolah di sekolah sepak bola Arsenal, menjadi kekuatan tersendiri di film ini.

Menghibur dan edukatif serta bertemakan anak-anak … Ciri khas Alenia Pictures. Sudah saatnya Film seperti ini yang mengisi bioskop-bioskop Indonesia, bukan lagi tema horor dan pornografi berkedok seni.

Categories: Oppinion, resensi Tags: , , ,