Emak Ingin Naik Haji … sebuah ceita sederhana
Gw baru saja balik dari BIP habis nonton film judulnya sederhana : “Emak Ingin Naik Haji”. Resensi Singkatnya bisa dilihat di sini.
Filmnya biasa, temanya juga tidak terlalu unik. Alurnya juga tidak begitu mengejutkan. Semuanya terasa biasa dan sederhana. Kisah ini pun berkisah tentang kesederhanaan. Seorang ibu tua yang memiliki keinginan yang mungkin cukup sederhana bagi segelintur orang berkecukupan di luar sana -NAIK HAJI-. Intinya semua tentang film ini begitu sederhana.
Tapi kesederhanaan itu juga yang bikin air mata gw ga berhenti mengalir tatkala emak begitu antusiasnya melihat gambar-gambar kota mekkah, tatkala emak mengaji lirih, ketika zein -sang anak- sujud syukur sewaktu emak menang undian dan malah beujung kegagalan berangkat karena zein mengalami kecelakaan, sewaktu emak dengan ikhlasnya mengatakan walaupun raganya tidak pernah mencapai mekkah, namun ia percaya Allah tau bahwa hatinya sudah lama sampai ke kota kelahiran Rasulullah itu, bahkan juga ketika pada akhirnya emak dan zein memperoleh anugrah untuk memenuhi panggilan Allah untuk pegi berhaji. Air mata ini juga susah dikendalikan ketika dengan ikhlasnya emak memberi makan tetangganya yang butuh makan, memberikan uangnya yang sudah direncanakan untuk berhaji kepada mantan menantunya ketika cucunya sakit, dan ketika alunan Labbaikallah Humma Labbaik seringkali dikumandangkan dengan indah dalam beberapa adegan.
Entah karena emang gw sedang dalam kondisi emosional atau memang film ini yang sangat sukses menyentuh hati gw, gw bener-bener tersentuh dengan film ini. Apalagi gw juga sedang berikhtiar hal yang tak jauh berbeda dengan zein, ikut ‘mengantarkan’ kedua orang tua gw menyempurnakan rukun islam mereka. Banyak hal yang gw pelajari, terutama tentang kesederhanaan dan keihklasan. Juga tentang ‘pengendalian nafsu’ untuk beribadah (in my opinion, Ibadah Haji yang wajib cuma sekali, jika sudah pernah berhaji, alangkah lebih baik jika kita memberikan kesempatan kepada orang lain daripada ikut berebut kuota dengan orang yang memang lebih membutuhkan) dan tentang makna ibadah itu sendiri. Pelajaran lain yang gw dapat adalah bahwa untuk setiap bibit kebaikan dan keikhlasan yang kita tanam, kita jualah yang nantinya memanen hasilnya
Gw acungin 4 jempol untuk film sederhana yang mampu mengetuk hati dan membuat gw lebih bersemangat mewujudkan ikhtiar gw.
One other great movie …

d' Latest Comments