Archive

Posts Tagged ‘Minangkabau’

WeekEnd @Jakarta

November 2, 2009 Widya 1 comment

Last week on October, I spent my weekend @my aunt’s house in Kampung Melayu Jakarta. My Aunt -Insya Allah- will go to Saudi Arabia for doing the 5th ‘Rukun Islam’ -Haji-.

As Indonesian Habit (mm … specially my hometown exactly), people who want going Hajj Candidate will hold ‘Mando’a‘ (or you can named id kind of ‘pengajian’). At this event, His/her relative do pray for him/her so that he/she may do this religious event well. That’s event also held to facilitate Hajj Candidate asking forgiveness to his/her relatives so that their Hajj will perfect.

There’s no thing extraordinary in this last sunday event. I often follow such same event before. But why do this tears coming off when I shake my aunt’s hand ? Coz when I shake her hand, I was asking her to pray in front of Ka’bah so that My Parents can follow her, completing their religious duties -Rukun Islam-.

Pa, Bu … I promise some day will be yours ….
Ya Allah … please allow us.

Nikah ala Minang ?

January 31, 2009 Widya 6 comments

Beberapa waktu yang lalu, saya ‘dipanggil’ pulang kampung karena salah seorang sepupu dekat saya akan melangsungkan pernikahan. Pernikahan rencananya akan dilaksanakan 23 Januari 200. Tapi karena ternyata acara tersebut bentrok dengan perhelatan besar “Batagak Penghulu” di kampung, jadinya pernikahan dipercepat 1 minggu menjadi tanggal 16 Januari 2009.

Dari dulu saya suka sekali mengamati prosesi pernikahan yang terjadi dalam keluarga besar saya. Sampai sekarang, keluarga kami memang masih melaksanakan hampir semua prosesi adat yang berlaku lazim di daerah saya (Kamang.red). Walaupun sebenarnya setiap proses bisa dibuat lebih sederhana sesuai dengan kesepakatan kaum. Setiap tahapan sendiri akan berbeda antara satu daerah dengan daerah lain di Minangkabau. Saya akan coba share sedikit mengenai prosesi berdasarkan hasil pengamatan saya.

1. Tuka Tando

Tuka Tando merupakan istilah lain dari tunangan. Tuka tando bukanlah menjadi suatu prosesi yang wajib dilakukan jika calon mempelai pria bukan pemuka adat. Namun jika sang mempelai pria adalah seorang Datuak, maka prosesi ini menjadi suatu keharusan. Perbedaan tahapan ini dari Tunangan adalah, benda yang dipertukarkan antara kedua keluarga tidak mesti cincin. Jika cincin pun, tidak untuk digunakan oleh kedua calon mempelai. Tapi disimpan khusus oleh keluarga. Jadi bisa dibilang, tuka tando bukan antara calon mempelai, tapi antara keluarganya.

Acara ini bermakna membuat suatu ikatan keluarga antara calon mempelai dan sebagai tanda bahwa mereka akan dipersatukan dalam keluarga baru.

2. Mangarumahan mamak

Tahapan ini berupa suatu kegiatan mengundang niniak mamak, urang sumando, ipa besan untuk hadir membicarakan mengenai pernikahan yang akan dilakukan. Dalam hal ini, sebelumnya keluarga inti sudah mempunyai perencanaan terlebih dahulu. Dengan demikian, acara ini lebih berbentuk sosialisasi. Namun tidak menutup kemungkinan terjadi musyawarah terkait hal hal yang mendetail.

Acara ini bermakna, bagaimana melibatkan suluruh saudara mempelai wanita termasuk keluarga yang ‘hanya’ sekaum agar menjadi orang yang ‘pertama kali’ mengetahui berita bahagia tsb.

3. Maanta bali

Proses ini mengundang keluarga dari pihak mempelai pria untuk memfix kan acara terutama terkait jadwal pelaksanaan prosesi selanjutnya seperti akad nikah, bajapuik, baralek, dsb. Acara ini dihadiri oleh laki-laki di kaum kedua belah pihak (niniak mamak dan urang sumando).

Acara ini diadakan untuk menyatukan kata mengenai hal-hal terkait tahapan, termasuk didalamnya menyamakan visi jika terdapat perbedaan kebiasaan dari keluarga kedua pihak.

4. Akad Nikah

Untuk akad nikah sendiri tidak terdapat perbedaan khusus dengan akad nikah lain, karena murni mengacu pada ajaran islam. Setelah akad nikah, mempelai pria dan keluarga diundang ke rumah mempelai wanita untuk makan bersama. Setelah acara makan selesai, mempelai pria beserta keluarga kembali ke rumah mereka.

5. Bajapuik

Tahapan ini merupakan prosesi menjemput mempelai pria ke rumah orang tuaya. Beberapa utusan keluarga mempelai wanita mendatangi rumah mempelai pria untuk menjemput mempelai pria. Pada saat yang bersamaan, di kediaman mempelai pria diadakan acara malapeh marapulai. Proses malapeh ini diikuti oleh niniak mamak dan urang sumando dari pihak mempelai pria. Pada saat ini, mempelai pria memakai baju khas minangkabau.

Setelah acara malapeh marapulai di kediaman mempelai pria selesai, mempelai pria beserta rombongan penjemput dan pengantar, menuju kediaman mempelai pria yang biasanya diiringi oleh rebana.

6. Mancilok Karak

Tradisi yang ke 6 ini, tidak dilakukan oleh keluarga, tetapi hanya oleh mempelai pria saja. Setelah shalat subuh keesokan harinya, mempelai pria pergi secara diam-diam (tanpa melalui proses adat, namun biasanya tetap diketahui oleh keluarga mempelai wanita) ke rumah orang tuanya.

Tradisi ini bermakna bahwa bagaimanapun mempelai pria telah dilepas oleh keluarganya untuk tinggal di rumah istrinya, namun pada saat-saat tertentu si suami tetap harus pulang untuk melakanakan tanggung jawabnya pada orang tua dan keluarganya. Dan si istri harus dapat merelakan suami untuk tetap memberikan perhatian pada keluarganya.

7. Baralek Gadang

Tahapan ini sama seperti resepsi pada umumnya. Kedua pengantin duduk dipelaminan sesuai waktu yang ditetapkan.

Tradisi ini bermakna sosialisasi kepada masyarakat luas bahwa pasangan ini telah resmi menjadi suami istri serta sebagai bentuk syukuran karena akad nikah telah dilaksanakan.

Sewaktu saya masih kecil, dari pengamatan saya, acara baralek untuk undangan laki-laki dan perempuan dipisahkan. Biasanya acara untuk laki-laki digabungkan dengan acara bapajapuik, sedangan untuk perempuan dikhususkan pada Baralek Gadang. Namun pada zaman sekarang, karena undangan tidak hanya ditujukan untuk keluarga terdekat, tetapi juga relasi yang terkadang berdomisili jauh, maka acara baralek juga banyak didatangi oleh undangan laki-laki.

8. Pai baralek ka rumah besan

Proses ini merupakan kegaiatan saling mengunjungi antar kedua keluarga. Untuk tahapan ini, acara untuk laki-laki dan perempuan dipisahkan. Jadi totalnya terdapat 4 kunjungan baralek, yaitu pihak laki-laki keluarga wanita ke keluarga pria, pihak perempuan keluarga wanita ke keluarga pria, pihak laki-laki keluarga pria ke keluarga wanita, pihak laki-laki keluarga pria ke keluarga wanita.

Acara ini dimaksudkan untuk mempererat hubungan kedua keluarga besar karena biasanya diikuti oleh hampir seluruh keluarga besar masing-masing mempelai.

9. Bamalam di rumah mintuo

Kegiaatan ini dilakukan hanya oleh mempelai perempuan. Pada tahapan ini, mempelai wanita tidur di rumah mertua, namun tidak didampingi oleh suaminya. Ini bermakna menjalin kedekatan antara istri dan mertua, yang harus tetap baik dengan atau tanpa suami.

Secara garis besar, itulah prosesi adat yang saya tangkap dalam pernikahan yang lazim terjadi di keluarga besar saya, walaupun gambaran mengenai masing-masing prosesi masih sangat minim karena saya memang mengulas garis besarnya saja. Btw, sebagai note semua proses ini dilaksanakan hanya jika kedua keluarga mempelai berasal dari kamang, dalam artian memiliki kebiasaan-kebiasaan yang sama. Jika kedua keluarga memiliki adat yang berbeda, ada beberapa prosesi yang dihilangkan, atau malah ditambah, sesuai dengan kesepakatan masing-masing.

Kalau dilihat dari gambaran prosesi adat yang dilakukan, pesta pernikahan ini memang terlihat ribet. Tapi satu hal yang menarik bagi saya, hampir semua prosesi yang dilakukan bermakna dalam dan berkaitan dengan musyawarah dan mempererat silaturrahmi dalam keluarga.