it’s The Vow

the vowSore tadi gw baru saja menonton The Vow, a romantic drama based on true story. Sebenernya telat siy … nih film udah dari zaman 2012 dan actually gw udah punya soft copynya dr zaman kapan. Tp ya gitu deh .. mengingat ‘kesibukan’ gw, akhirnya nih film ga sempat ke-tonton.  Dan kemaren, pas bgt gw lg di semarang n siap2 buat sarapan, gw muter channel the fox movie di kamar hotel, dan taraa .. ternyata lagi ada pelem ini tayang di sono. Karena cuma sempat nonton setengah, balik-balik k bdg yang pertama gw lakuin adalah bongkar-bongkar koleksi lama dan nemulah ini pelem. And because nih pelem udah setaun berlalu, tulisan gw kali ini akan sangat berbau spoiller ^_^.

The story goes between spouse, a marriage couple yang lagi fall in love each other. Dan cerita bermula ketika mereka mengalami kecelakaan, dan si cew bangun dengan ingatan yang terhapus 5 tahun ke belakang, which means doi ga kenal sama cow yang jadi suaminya. Parahnya lagi, ternyata si cew sudah cukup lama berpisah dari orang tuanya, dan momen hilang ingatannya si cew, dimanfaatkan orang tuanya untuk mengembalikan si cew ke keluarga mereka.

Si suami berjuang keras mengembalikan ingatan istrinya, membuat istrinya kembali jatuh cinta padanya, dengan segala cara. Tapi si cew malah terlihat tidak ingin mengingat kembali masa-masa bersama suaminya, karena hidupnya sebelum 5 tahun itu sangat sempurna, dengan status sebagai mahasiswa hukum dan seorang tunangan yang mapan.

Leo, si suami akhirnya menyerah. Dia melihat istrinya akan lebih bahagia dengan tidak mengingat apapun. Leo memutuskan mundur dari kehidupan istrinya dengan menceraikannya. Beberapa waktu kemudian, istrinya menyadari -walaupun dengan ingatan yang belum kembali- bahwa hidupnya bersama orang tuanya bukanlah hidup yang dia inginkan. Ia pun memulai kembali hidupnya yang baru sebagai seorang artist dan meninggalkan keluarganya, hingga mereka berdua kembali bertemu. Di akhir cerita, disampaikan bahwa di kehidupan nyata pasangan itu akhirnya kembali menikah dan memiliki 2 anak, dan sampai saat ini si istri masih belum kembali ingatannya …

So, what’s so important about this movie? Actually, I just kinda like it so much. Cerita ttg bagaimana seorang suami begitu menyayangi istrinya, bahkan rela melepaskan ketika pada akhirnya si istri terlihat bahagia jika dilepaskan. If we meant to be together, we’ll be. That’s what he said about his decision. Dan pengorbanannya ga sia-sia donk pastinya … Si cew kembali jatuh cinta padanya dan kembali jadi istrinya, bahkan tanpa ingatan yang kembali.

One more point. Actually, gw ga terlalu suka endingnya. Bukan karena ga bagus. It’s great of course. Tapi ya gitu deee …  Film berakhir dengan ending si cew tetep ga inget apa-apa itu, bikin gimaannnaa gt yaa .. gregetan aja si .. Maklum, gw suka banget yang akhirnya happy ending nya poll gt dehh …. Tapi namanya jg movie based on true story .. It’s not always a happy ending in my way .. but it’s definitely happy ending …

So, This Movie show us the power of love and I envy to the max … ^_^

Rectoverso, my simple thought

Poster Rectoverso without SoundtrackI promise not to be a spoiler in this note ^_^

Senin kemaren, gw dan seorang teman memutuskan menonton Rectoverso, film yang diangkat dari kumpulan cerpennya Dewi Lestari berjudul sama. 5 cerita dari buku itu kemudian digarap oleh 5 orang wanita yang berbeda -Rachel Maryam, Olga Lidya, Happy Salma, Cathy Sharon, dan Marchella Zalianty- yang di awalnya lebih terkenal sebagai pemain ketimbang sutradara.
rectoverso

Sesuai dengan kalimat pertama gw diawal tulisan ini. Ulasan gw kali ini bukan soal cerita detail dari setiap scene di Rectoverso. Bagi pembaca novel Rectoverso, tentu sudah bisa mengira ceritanya, walaupun tentu saja tidak selamanya persis sama dengan cerpen. Hanya sedikit film yang mampu mengangkat cerita persis dengan novel/cerpen aslinya. But believe me … in some scene, justru menurut gw Film ini lebih ‘nancep’ dibanding buku aslinya.

5 cerita dalam 1 rangkaian film. Pernah kita temukan di film ‘Love’ karya Kabir Bathia di 2008 silam. Dengan 5 sutradara yang menggarap cerita secara terpisah, Rectoverso cukup sukses membuat alur yang mengalir, tanpa perlu merasa adegan yang melompat-lompat. Tapi terus terang, untuk gambaran penceritaan seperti ini, gw lebih suka penyajian ala Traveler’s Tale, di mana 4 penulis yang berkolaborasi membuat 1 cerita utuh menghadirkan keterkaitan antara tokoh-tokoh di dalamnya. Atau ala 4 seasonsnya Illana Tan yang mampu menyajikan 4 novel berbeda cerita tapi punya keterkaitan tokoh di setiapnya. Barangkali Rectoverso akan lebih mengalir jika saja tokoh-tokoh di rectoverso memiliki keterkaitan satu sama lain, walaupun tidak perlu memiliki hubungan dekat.

Dengan jumlah pemain yang tidak banyak dalam setiap cerita, menurut gw sutradara pun sukses membuat cerita terfokus, tidak bertele-tele dan ‘nancep’. Hampir setiap cerita disajikan dengan mendalam. Curhat buat Sahabat yang disutradarai Olga Lidya, manurut pandangan gw, termasuk salah satu yang paling sukses menyajikan adegan yang ‘dalam dan bermakna’. Walaupun didominasi oleh dialog dua tokoh utama -Reggie dan Amanda-, tapi tidak membuat adegan demi adegan terasa membosankan. Jumlah pemain yang sedikit tapi mampu menyajikan akting yang keren, menurut gw jadi salah satu keunggulan utama film ini, baik Curhat Buat Sahabat maupun 4 film lainnya. Honestly, agak berbeda dari film indonesia kebanyakan.

Acungan jempol gw buat film ini adalah dalam pandangan gw, pemainnya cukup sukses mendalami karakter dari setiap peran. 4 thumbs up tentu saja buat Lukman Sardi si Abang di malaikat tak bersayap. Lain-lain keren dengan Reza Rahadian waktu berperan sebagai habibie. Both of them are doing great and layak disebut sebagai aktor yang top.

Ok, readers … that’s just my simple though, dari penonton biasa yang ingin berkomentar tentang apa yang telah dilihatnya …. Last but not least, ada pertanyaan menggelitik yang pernah sekilas gw baca di socmed …

From the story of Rectoverso, which one is yours ? 

^_^


Japati, Feb 21th 2013 …
pic taken from here and here

Film ‘?’ – Menurut Saya ….

Sebagai permintaan dari ibu ini yang sedang nun jauh di sana dan tidak bisa menemani saya menonton sore ini, jadilah saya menuliskan opini saya mengenai Film ‘?’ (baca : Film Tanda Tanya) yang mengangkat isu sensitif ini. Jadi so sorry kalau postingan ini kental banget spoiler nya 😀

Dan karena saya bukan seorang ahli agama, bukan pula ahli perfilman, maka apa-apa yang saya tulis di sini murni sebagai orang awam penonton film.

Penokohan dalam film ini bisa langsung dilihat di sini.

Berkisah tentang seorang muslimah bernama Menuk yang sudah menikah dengan lelaki soleh bernama Soleh. Menuk bekerja di sebuah resto masakan china kanton yang menjual makanan non halal. Uniknya, si pemilik resto yang keturunan tionghoa ini sangat mengerti bahwa bagi umat muslim, babi merupakan makanan yang haram. Dan sebagai toleransi terhadap umat islam, si pemilik resto benar-benar membedakan pengolahan makanan babi dan non babi. Dimulai dari alat masak yang diberi tanda khusus sampai peralatan makan yang dipisah. Toleransi lain yang ditunjukkan oleh si pemilik resto adalah, memberikan keleluasaan bagi pegawainya untuk berjilbab, beribadah, menutup restorannya dengan tirai selama bulan puasa dan memberi libur karyawannya sampai 5 hari setelah lebaran.

Soleh merupakan lelaki taat beragama yang pada awalnya pengangguran dan akhirnya bekerja sebagai banser NU. Di sini soleh diceritakan alim namun agak tempramental. Dia juga yang memimpin penyerangan ke resto t4 menuk bekerja dikarenakan, anak pemilik resto menerapkan peraturan baru yang kurang toleran terhadap umat islam. Soleh sebagai salah satu tokoh sentral, menurut saya diporsikan tepat. Emosi yang seringkali diperlihatkan, sangat manusiawi dan sama sekali tidak dikarenakan ajaran yang ia yakini, tapi benar-benar karena statusnya yang pengangguran dan kekurangsukaannya terhadap etnis china (yang dimungkinkan karena istrinya pernah memiliki hubungan spesial dengan Hendra, anak pemilik resto, sebelum mereka menikah). Dan sifat baiknya akhirnya terlihat pada klimaks, ketika dia mengorbankan dirinya menyelamatkan sebuah gereja dari bom.

Ada pula seorang wanita – Rika – yang murtad dan sempat dimusuhi oleh anak dan orang tuanya. Isu murtad dipastikan sangat sensitif bagi pemeluk agama manapun. Dan lagi-lagi menurut saya, Hanung cukup cerdas memporsikannya. Hanung tidak mengeksploitasi penyebab murtadnya secara terang-terangan, walaupun ada satu ucapan Rika mengenai Yesus yang agak menggambarkan hal tersebut : ‘Ia juga berjanji mengobati saya’. Dan ada gambaran sekilas tentang kekecewaannya terhadap suaminya yang mengkhianatinya. Tapi sekali lagi, penonton tidak diarahkan dengan alasan yang nyata. Uniknya, Hanung menggambarkan bahwa Rika tetap membiarkan anaknya memeluk islam dan bahkan merayakan khatam quran anaknya.

Adalagi Pik Hen atau Hendra, putra pemilik resto t4 menuk bekerja yang sangat uring2an dikarenakan kekecewaannya Menuk memilih Soleh karena Soleh adalah orang yang seiman dengan Menuk. Pada akhirnya, Hendra justru memeluk Islam setelah membaca buku mengenai Asmaul Husna. Selain itu, ada Surya, seorang artis figuran muslim yang sempat memerankan tokoh Yesus dalam pertunjukan gereja.

Menurut saya, sekali lagi menurut saya, Film ini bagus dan layak untuk ditonton. Jujur saja, ketika pertama kali melihat trailer Film ‘?’, saya langsung berpikiran Film ini membawa isu liberal, bahwa semua agama sama, boleh saja bagi seseorang untuk pindah agama, kemudian tentang islam garis keras dan bahkan diujung trailer ada suatu kalimat yang menimbulkan berbagai persepsi : “Apa itu Islam, Ustadz ?”

Tapi, ketika akhirnya menonton film ini secara keseluruhan, justru menurut saya yang sangat menonjol disini bukanlah isu agama –berbeda dengan sang pencerah-. Isunya adalah mengenai realitas di kehidupan masyarakat kita, bahwa perbedaan itu memang ada. Dan memang di realitas hidup, juga ditemukan orang-orang yang mungkin melakukan sesuatu yang tidak lazim seperti misalnya pindah agama. Tidak bermaksud memandang pindah agama itu boleh -saya tetap dalam pemikiran itu dilarang-, tapi karena temanya bukanlah Film Religi, menurut saya tidak ada yang salah dengan penyajian tokoh seperti ini. Apalagi, di sini Hanung cukup hati-hati dengan meminimkan pembahasan mengenai penyebab kepindahannya, sehingga sebagai orang islam, saya tidak merasa terganggu dengan hal tersebut.

Di sini juga dengan cerdik Hanung memperlihatkan bukan agama lain saja yang toleran. Islam pun mengajarkan toleransi. Sangat terlihat dari perkataan2 ustadz ditambah dengan aksi Banser NU yang ikut mengamanakan gereja di malam Paskah dan Natal.

Mungkin, yang masih belum begitu saya sepakati adalah ketika Surya pada akhirnya memerankan tokoh yesus dalam suatu pementasan paskah. Di sini, ustadz menyampaikan bahwa, dimanapun berada, yang penting iman tetap pada islam. Saya sepakat dengan pernyataan tersebut, tapi saya sendiri belum sepakat jika seorang muslim memerankan tokoh kristen yang taat apalagi memerankan Yesus.

Satu hal lain yang kurang sesuai dengan pemikiran saya adalah ketika Menuk mengatakan pada Hendra bahwa cinta di masa lalunya pada Hendra adalah anugerah karena Allah memberinya kesempatan untuk memiliki cinta antar agama. Tapi tetap ini masih dalam batas kewajaran karena toh pada akhirnya Menuk tetap memilih Soleh yang seorang muslim. Satu hal yang menurut saya kurang pas adalah foto-foto antara Menuk & Hendra ketika mereka masih berpacaran. Apalagi dengan status menuk seorang wanita berjilbab dan hendra seorang non muslim.

Yang juga menurut saya agak ‘kurang’ adalah endingnya. Bukan kurang greget atau gimana yaa … tapi menurut saya terlalu dramatis. Setelah sukses dari awal memperlihatkan realita, Film ini justru ditutup dengan aksi yang hampir mustahil terjadi di dunia nyata. Mungkin akan lebih enak, jika endingnya dibuat agak sedikit ‘halus’ tanpa menghilangkan esensi kepahlawanan Soleh.

Dan satu catatan utama saya yang lagi-lagi menurut saya sebagai buah dari kecerdikan sang penulis & sutradara adalah ketika Hendra masuk islam karena membaca Asmaul Husna. Dan sebelum masuk islam dia bertanya kepada ustadz : “Apa itu islam ustadz ?” (kata-kata yang di cuplikan trailer terlihat seperti bernuansa protes, di Film ini diperlihatkan ternyata bukan seperti itu, justru itu merupakan pertanyaan sederhana dari seorang non muslim yang ingin memeluk islam). Dan akhir cerita ini, tentang Hendra yang masuk islam dan penyebab dia masuk islam membuat Film ini pada akhirnya memperlihatkan Keagungan Islam. Pada akhirnya, keyakinan Hanung sebagai seorang muslim tetap terlihat ketika cukup gamblang memperlihatkan Asmaul Husna dapat membimbing seseorang menjadi muallaf .

Sooo …. it’s such a humble opinion from me … Opini sederhana yang saya pikirkan mengenai Film ‘?’. Dan sepakat dengan Asma Nadia yang memberikan pendapat pada Twitternya Hanung Bramantyo bahwa utamanya Film ini tentang realita keberagamanan sosial di masyarakat kita

> Buat lk2 sbg imam kel. mkn lbh baik dlm menuntun istri? Sy ga lht @Hanungbramantyo promosi kemurtadan+adegan akhir ada tkh non msk islam

> Yang ditampilkan @Hanungbramantyo sekali lg adl sketsa. Potret masy dan kasus2nya pun nyata. Bukan baru kita dengar. #film’?’

Never know unless you try … (When In Rome)

Setelah menimbang-nimbang ga jelas, finally gw memutuskan cuti senin kemaren. Meski ga punya agenda apa-apa, gw cuma lagi ngerasa sangat malas berangkat ke kantor plus lagi ga pengen mikirin kerjaan kantor. you can call it ‘jenuh’ or anything, yang jelas trying to entertain yourself after all those bored thing is good isn’t?

So, where have I been ?

Nope … pagi-pagi kontrol ke dokter gigi, siangnya maen ke PVJ bela-belain nonton narnia versi 3D with no subtitle (OMG so difficult to understand some ‘british-talk, but I mark 9 of 10 for this film) , lanjut ke IP hanya untuk makan malam (dan beli sandal karena sandal yg belum lama gw beli tiba-tiba putus ditengah jalan :|) dan berakhirlah kembali di kosan.

Kembali dirundung bosan, gw mulai mengubek2 koleksi DVD dan menemukan 2 DVD yang belum kesentuh sama sekali. ‘When In Rome’ and ‘The Back-up Plan’.

Dengan laptop lama yang rada-rada ngadat (karena gw lupa bw charger laptop baru dr kantor 😦 ), ‘When In Rome’ jadi pilihan pertama untuk menghabiskan waktu.

Bercerita ttg seorang wanita karir -A curator named Beth- yang gagal dalam percintaan karena seringkali ia lebih mencintai pekerjaan ketimbang pasangannya sendiri. Keadaannya diperparah dengan kegagalan pernikahan orang tuanya karena ayahnya dengan sangat mudah jatuh cinta pada wanita lain.

Singkat cerita, pada pernikahan adiknya di Rome, Beth menemukan Nick, seseorang mantan pemain football yang menjadi wartawan, yang kemudian mengisi hatinya. Setelah melalui berbagai hal -insiden koin di air mancur rome,bantuan Nick pada pamerannya, sampai dikejar-kejar 4 orang pria yang dikenai mantra cinta, serta kesalahpahaman akan perasaan Nick – I dont want to make any spoiler – 😀 , mereka memutuskan menikah . Menjelang pernikahannya, Beth dengan segala kecemasan akan kegagalan pernikahan, bertanya pada ayahnya

Beth : When you married Mom, Did you ever think that you wouldn’t make it?

Daddy : Honey, You cannot learn from my mistakes. You’re going to have go out there and make your own. Now you could get your heart broken or you could have the greatest love affair the world has ever known. but you’re not going to know unless you try

Beth : But what if there was a guarantee that you’d never get hurt

Daddy : Babby … The Passion is in the risk

Nice talk, I guess. We never know what has been waiting for us, unless we going through … And there has never been any guarantee of happiness for us .. coz the passion is in the risk and every journey is worth it …

…. So, It’s Nice to spend my ‘Me-Time’ to watch such a romantic, simple and good movie 🙂 ….

OOT …. I’ve found many good lessons in New Narnia …I’ll share later …

Finally, The Lost Symbol

Finally beres juga … Biasanya gw bisa beresin baca bukunya si Bapak Dan Brown dalam 2-3 hari. Tapi yang ini … fyuuh … kurang lebih 1 minggu baru kelar. Emang siy, klo dulu gw bisa menomorsatukan baca novelnya si DB dalam aktivitas keseharian gw, menunda makan, lupain nonton bahkan pending belajar, gw bela-belain buat nuntasin baca bukunya. Tapi sekarang ga mungkin donk, gw bela-belain bolos kantor cuma buat ni buku. Walaupun sempat juga buku tebel ini gw tenteng2 ke kantor, mencoba menyempatkan diri baca pas lagi di angkot, pas ga ada kerjaan, pas jam istirahat. Pokoke demi TLS … 🙂

Terlepas dari waktu luang gw yang berkurang, menurut gw buku ini emang lebih berat dari buku-buku DB sebelumnya -nyari alasan kenapa bacanya lama banget … xixixi- Berat dalam artian denotatif maupun konotatif. Berat karena tebelnya dan berat karena isinya. Buku-buku sebelumya berkisar antara 500-600 halaman. Sedangkan buku ini lebih dari 700 halaman. Isinya juga lebih berat. Penjabaran simbol lebih banyak dan lebih rumit. Belum lagi karena gw sendiri emang awam dari persimbolan.

Cerita Dan Brown kali ini membahas kelompok persaudaraan yang -katanya- berasal dari Scotlandia dan cukup terkenal di Amrik sono ‘Mason’. Diceritakan disini, anggota-anggota kelompok ini diisi oleh orang-orang penting seperti George Washington, Franklin, Newton … plus secara Fiksi digambarkan diikuti juga o/ Peter Solomon -Bangsawan kaya raya-, Inou -Direktur CIA-, Pendeta, Arsitek US Capitol, Anggota penting Senat Amerika, dsb. Kelompok ini menjaga rahasia yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Seseorang bernama Mal’akh, menyusup ke dalam kelompok, mencapai derajat tertinggi dari persaudaraan itu dengan tujuan yang tidak disangka-sangka. Bukan menjaga kerahasiaan, tapi malah ingin mengungkapkan. Karena alasan-alasan yang baru diungkapkan di akhir cerita. Membuat pembaca esp. me … menyadari apa sesungguhnya kepentingan Mal’akh.

Dalam pengungkapan rahasia-rahasia Mason inilah, Robert Langdon -tokoh utama Davinci Code dan Angel & Demon- berperan. Symbolog Harvard ini selalu jadi kunci pemecahan symbol-symbol.

-cut sampai di sini aja yaaa … gw kagak mau jadi spoiler :D-

Seperti khasnya Dan Brown. Buku ini sarat informasi mengenai bangunan-bangunan yang setiap detailnya digambarkan memiliki makna. Dan Brown dengan sukses memberikan deskripsi lengkap mengenai setting tempat. Dan seperti biasa juga, Dan Brown selalu menguti berbagai fakta dalam bukunya. Shingga terkadang kita sebagai pembaca awam, agak susah memisahkan mana bagian yang fiksi dan bagian yang nyata. (Gambaran fakta bisa dilihat di The Lost Symbol Indonesia). Dan Brown juga sukses mebuat penasaran dari awal sampai akhir cerita. Setiap tokoh yang dilibatkan memiliki misteri masing-masing. Dan terkadang, cukup sulit mengidentifikasi keberpihakan tokoh-tokoh dalam cerita, tentu saja di luar Robert Langdon si tokoh utama. Dan kembali khas Dan Brown, tidak setengah2 dalam mengulas fakta. Tidak segan-segan menyebut gedung-gedung nyata plus organisasi CIA yang jelas-jelas ada. Suatu kekaguman gw -entah kepada Dan Brown si pemberani itu atau kepada kebebasan orang barat sana untuk menokohkan organisasi atau tokoh-tokoh penting dalam sejarah mereka seperti juga pada film-film yang dengan nyata menokohkan seorang presiden sekalipun.

The Lost Symbol agak memberikan keunikan tersendiri dibanding buku-buku sebelumnya. Pengungkapan fakta kadang membuat gw merasa bahwa pertualangan akan berakhir. Tapi ternyata masih mentah. Pengungkapan satu symbol tertentu yang terkadang dianggap sebagai jawaban final ternyata belum sampai pada akhirnya. Kita masih dibawa untuk mengungkap fakta selanjutnya. Begitu juga dengan tokoh antagonis di sini. Kalau pada buku sebelumnya, tokoh antagonis lebih banyak berperan sebagai orang yang terlihat baik dan mengendalikan pelaku di lapangan, di buku ini sangat berbeda. Sehingga karena terbiasa membaca karya Dan Brown, secara otomatis di awal, gw mulai mereka-reka tokoh jahat mana yang terlihat baik dan menjadi sumber masalah. Dan tentu saja gw gagal total mengidentifikasi Tokoh Antagonis dan motifnya … 😦

So, yang senang novel-novel Dan Brown, Selamat membaca …..

Hari Untuk Amanda

Sudah lama tidak menikmati film romantis ringan ala Indonesia, coz-you-know-what. Tapi kamis kemaren, adek gw ngajakin nonton film yang baru premier di hari itu. Judulnya ‘Hari Untuk Amanda’.

Ga ada ekspektasi khusus buat gw, waktu mutusin nonton film ini. Palingan standar. cerita biasa. Such no thing special lah. Tapi, berhubung gw emang lagi pengen nonton film yang ga berat-berat, akhirnya gw coba nikmatin niy film.

Ceritanya emang ga ada yang spesial, seorang cewek 26th bernama Amanda, dihubungi kembali oleh Hari, mantan pacarnya yang sudah dipacarinya selama 8 tahun, dan putus oleh sebab yang sebetulnya ga terlalu kronis. Parahnya, Amanda dihubungi Hari, justru beberapa hari menjelang pernikahannya dengan cowok bernama Dody.

Hari yang menyenangkan, easy going, penuh kenangan dan care, berbeda jauh dengan Dody yang cenderung workaholic sehingga terkesan cuek. Amanda yang stres karena harus mempersiapkan hari pernikahan, makin stress dengan sikap Dody. Hari yang ada di saat yang tepat, menjadi tempat Amanda mencurahkan semuanya. Ini tentu saja membuat kebimbangan baru di hati Amanda. Haruskah Ia memilih Dody atau Hari ? Complete storynya liat sendiri dah di bioskop 😀 …

Tapi dengan ‘kestandaran’ film ini, ada beberapa good point yang gw dapet dari film ini ….

First, Jodoh di tangan Tuhan.
Mungkin ungkapan yang klise terdengar, tapi film ini seakan ingin membuktikannya. Seseorang yang jadi pasangan bertahun-tahun, bukan berarti jodoh kita. Mungkin sekali penyebab kita menyadari bahwa dia bukan jodoh kita adalah hal-hal simple yang mungkin tidak pernah kita kira sebelumnya.

Second, Keinginan Vs Kebutuhan.
Terkadang kita mudah sekali menuruti keinginan. Tapi seringkali lupa dengan kebutuhan kita. Apalagi jika keinginan itu tidak sejalan dengan kebutuhan. Mana yang harus jadi prioritas ? Hari yang care, mungkin bisa memberikan semua yang Amanda inginkan … Tapi kebutuhan Amanda akan kepastian, akan keteraturan hidup, bisakah Hari memberikannya ?

Third, All about destiny
Setiap peristiwa yang kita alami, bisa jadi akan menentukan masa depan kita. Amanda yang salah paham pada Hari ketika tidak datang pada acara keluarganya (padahal Hari tidak datang karena harus membantu temannya yang hipotermia), memutuskan Hari secara sepihak. Bahkan ketika Hari bermaksud ingin merayakan 8 tahun kebersamaan mereka, Amanda yang masih marah, memutuskan untuk tidak datang. Walaupun menurut Hari, itu hanya kesalahpahaman yang seharusnya tidak membuat mereka putus, Tapi ternyata itulah awal Amanda menemukan Dody, calon suaminya sekarang.

So, kesimpulannya, film ini termasuk recommended buat ditonton, terutama buat yang lagi pengen nonton film-film ringan. No Porn, No Sex, No Horror and Meaningful … Recommended lah.

Emak Ingin Naik Haji … sebuah cerita sederhana

film21751 Gw baru saja balik dari BIP habis nonton film judulnya sederhana : “Emak Ingin Naik Haji”. Resensi Singkatnya bisa dilihat di sini.

Filmnya biasa, temanya juga tidak terlalu unik. Alurnya juga tidak begitu mengejutkan. Semuanya terasa biasa dan sederhana. Kisah ini pun berkisah tentang kesederhanaan. Seorang ibu tua yang memiliki keinginan yang mungkin cukup sederhana bagi segelintur orang berkecukupan di luar sana -NAIK HAJI-. Intinya semua tentang film ini begitu sederhana.

Tapi kesederhanaan itu juga yang bikin air mata gw ga berhenti mengalir tatkala emak begitu antusiasnya melihat gambar-gambar kota mekkah, tatkala emak mengaji lirih, ketika zein -sang anak- sujud syukur sewaktu emak menang undian dan malah beujung kegagalan berangkat karena zein mengalami kecelakaan, sewaktu emak dengan ikhlasnya mengatakan walaupun raganya tidak pernah mencapai mekkah, namun ia percaya Allah tau bahwa hatinya sudah lama sampai ke kota kelahiran Rasulullah itu, bahkan juga ketika pada akhirnya emak dan zein memperoleh anugrah untuk memenuhi panggilan Allah untuk pegi berhaji. Air mata ini juga susah dikendalikan ketika dengan ikhlasnya emak memberi makan tetangganya yang butuh makan, memberikan uangnya yang sudah direncanakan untuk berhaji kepada mantan menantunya ketika cucunya sakit, dan ketika alunan Labbaikallah Humma Labbaik seringkali dikumandangkan dengan indah dalam beberapa adegan.

Entah karena emang gw sedang dalam kondisi emosional atau memang film ini yang sangat sukses menyentuh hati gw, gw bener-bener tersentuh dengan film ini. Apalagi gw juga sedang berikhtiar hal yang tak jauh berbeda dengan zein, ikut ‘mengantarkan’ kedua orang tua gw menyempurnakan rukun islam mereka. Banyak hal yang gw pelajari, terutama tentang kesederhanaan dan keihklasan. Juga tentang ‘pengendalian nafsu’ untuk beribadah (in my opinion, Ibadah Haji yang wajib cuma sekali, jika sudah pernah berhaji, alangkah lebih baik jika kita memberikan kesempatan kepada orang lain daripada ikut berebut kuota dengan orang yang memang lebih membutuhkan) dan tentang makna ibadah itu sendiri. Pelajaran lain yang gw dapat adalah bahwa untuk setiap bibit kebaikan dan keikhlasan yang kita tanam, kita jualah yang nantinya memanen hasilnya

Gw acungin 4 jempol untuk film sederhana yang mampu mengetuk hati dan membuat gw lebih bersemangat mewujudkan ikhtiar gw.

Garuda di Dadaku

film20921m

Great Movie …

Kisah seorang anak pencinta sepak bola bernama bayu yang ditentang habis-habisan oleh sang kakek yang anti sepak bola. Nasib kurang baik ayah si anak yang terbuang dari dunia sepak bola karena cedera dan menghabiskan sisa hidupnya menjadi supir taksi serta kurang baiknya track record pesepakbola negeri ini, membuat sang kakek melarang si anak berhubungan dengan apapun terkait sepak bola. Malahan kakeknya mengarahkannya untuk les lukis dan musik yang sama sekali tidak ia sukai

Bakat Bayu dapat dilihat dengan baik oleh sahabatnya Heri, yang juga mencintai sepak bola namun harus mengubur mimpinya menjadi pemain sepak bola karena lumpuh sejak kecil. Dengan support yang besar dari Heri -dibantu supirnya-, Bayu berhasil lolos seleksi TimNas U-13 dan berhasil meluluhkan hati sang kakek.

Cerita menghibur dan bermutu. Ciri khas yang susah ditemui di Film Indonesia. Heri yang selalu optimis, penuh ide-ide dan tak kenal menyerah memberikan semangat pada Bayu menjadi nilai plus bagaimana indahnya persahabatan yang terjalin di antara mereka. Berbagai adegan kocak Bayu, Heri dan supirnya memberikan hiburan lebih pada film ini.

Nilai plus Garuda Di Dadaku menjadi lebih lengkap dengan kepintaran Bayu mengocek bola. Keseriusan Tim Produksi yang menemukan sosok pemeran Bayu pada seorang anak berbakat yang sekolah di sekolah sepak bola Arsenal, menjadi kekuatan tersendiri di film ini.

Menghibur dan edukatif serta bertemakan anak-anak … Ciri khas Alenia Pictures. Sudah saatnya Film seperti ini yang mengisi bioskop-bioskop Indonesia, bukan lagi tema horor dan pornografi berkedok seni.

Bidadari-Bidadari Surga

album_picphpAkhirnya, setelah pencarian sekian lama, Senin malam lalu gw menemukan Bidadari-Bidadari Surga nya Tere Liye di Togamas. Rekomendasi seorang teman via komen di blog ini, membuat gw penasaran dengan imajinasi Tere Liye saat ini. Setelah 3 buku (Hafalan Shalat Delisa, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu, Moga Bunda Disayang Allah) terutama HSD sebelumnya mampu bikin gw menitikkan air mata dan tersenyum puas setelah membacanya, gw jadi ingin tau bagaimana dengan buku keempat.

Continue reading

Rahasia Meede

Rahasia Meede Setelah selesai baca novel satu ini .. satu kata : capek !!
Baca novel ini bener-bener bikin capek … karena kita dipaksa menggunakan otak & di bawa ikut menganalisis tokoh yang muncul dengan berbagai kepentingan, menganalisis kejadian baik sejarah maupun fakta pembunuhan, sampai capek membayangkan di mana kisah ini akan berakhir.

Mata sudah menyerah membaca rangkaian kata, tapi hati dan pikiran masih terus ingin tau. Penasaran bagaimana kelanjutan ceritanya. Salah satu hal yang membuat saya susah mengalihkan mata dari Rahasia Meede. Akhirnya dengan pandangan mata pas-pasan, jam 3 dini hari buku ini selesai saya baca dengan kepuasan yang amat sangat.

Berkisah tentang misteri harta karun VOC, E.S Ito memberikan pemaparan sejarah yang tak pernah muncul di buku pelajaran sejarah sekolahan. Dan seperti khasnya E.S Ito -bahkan teman saya mengatakan bahwa novelnya adalah novel narsis-, ia tak lupa mencantumkan kehebatan bumi Minangkabau, baik melalui tokoh Hatta dan pemaparannya tentang tambang emas salido.

Must Read !! Mungkin itu ungkapan yang patut diberikan pada buku ini. Ada pengasahan otak dan penambahan ilmu dalam ceritanya. Apalagi di novel ini, E.S Ito berhasil menghindari kekhasan Dan Brown seperti pada novel pertamanya -ending tidak selalu menghasilkan kisah cinta bahagia oleh 2 tokoh utama-