Izinkan aku kembali berdoa

muslim-woman-praying

Telah berulang kali aku mencoba pergi. Memaksakan diri terbangun dari mimpi yang tak berkesudahan. Melepaskan diri dari asa yang tak kunjung terpuaskan …

Terkadang aku begitu percaya diri, meyakinkan diriku sendiri bahwa aku telah berhasil menutup rapat pintu pengharapan. Menyimpan semua pinta dan rasa di sudut hati yang tak kan pernah lagi kubuka …

Tapi ketika setitik cahaya itu datang, Aku tidak bisa mencegah diriku untuk kembali memupuk angan-angan. Menyirami kembali benih impian yang sempat layu karena kenyataan …

Ketika setitik embun mengiringi hadirnya mentari pagi, Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memupuk asa, bahwa gelapnya malam akan segera berganti dengan hari baru penuh dengan cahaya …

Maka izinkan kali ini aku kembali berdoa, agar Tuhan mengarahkan dua jalan ke satu titik pertemuan, untuk kemudian menyatukannya perjalanan kita di satu jalur yang sama …

Melbourne, 08 September 2015, 01.50 AM

Pic taken from here

17 August 2014, Dirgahayu Indonesiaku

17 August 2014

Exactly 69 years after Indonesian’s founding fathers -Soekarno Hatta- stood in front of Soekarno’s residence, Pegangsaan Timur 56 Jakarta, declared Indonesian freedom from Dutch Government.

My lovely country has been growing old yet young also …

We have been going through 69 years of our life and faced our high and low condition as a nation. Two big milestones even happened which transformed the lowest condition of Indonesia to be expected as better one : from Old Order (Sukarno Regime) to New Order (Suharto Regime) and New Order to Reformation Era which was started after Suharto put down his position as Indonesian President after 32 years in the throne. As far as I read in Indonesian history, Indonesia had been experienced smooth development and its lowest condition as well. So many things to tell and so many perspectives also. Every body definitely will share their thought based their own experience. I may find that Indonesia has been going well so far because I barely experienced some significantly bad things to be judged. Nevertheless, I also believe that my country can be much much better than this.

Indonesia is this old and young…

69 years is old enough as a man yet may be to young as country. So many homework for whoever become leader of this country. So many ‘trashes’ to clean up, so wide area to handle, many valuable resources to protect and so many voices to be heard. More than 250 million people with thousands islands are waiting to be serviced. Most of Indonesia citizens -I believe- love this country so much. But, they also have their own way to show that. And it’s definitely not easy to deal with their way of thought and way of act.

17 August 2014,

Today is last time for Mr. Yudhoyono leading Independence Ceremony in Merdeka Palace. 10 years of his era has been come to an end. Surely not easy for him to lead such a big and complicated country. As a president, in some points he made me proud thought in many other circumstances, he also made me upset. Me and many other Indonesian fellows once surely ever thought that he could do much better than what he did so far. However, he is a ordinary man who took his courage -whatever the reason behind it- managing this country. And I can’t say anything but thank you for doing that. As an ordinary Indonesian citizen who always want the best for this country, I appreciate what Mr Yudhoyono with his efforts and shortages that came along with him has been done so far. He’s not a perfect leader indeed, yet he has done much better than me.

Two days before this big days, the President spoke in front of highest Indonesian Council – MPR RI – and claimed that Indonesia now free of IMF Debt and will be able to control its own economic strategy (The complete news can be read through this link). For me, It’s good news and big gift for this day as well though some other fellows think that this news cannot be fully trusted and Indonesia still need to pay interest to IMF and this report is not as good as it looks like. It’s their choice and I made mine. Good footprint in the end of your era, Mr. President 🙂

Here I attach quote from his last speech that show his gratitude and apologize as well :

Merupakan kehormatan besar bagi saya untuk menjadi Presiden Indonesia. Saya adalah anak orang biasa, dan anak biasa dari Pacitan, yang kemudian menjadi tentara, menteri, dan kemudian dipilih sejarah untuk memimpin bangsa Indonesia.

Menjadi Presiden dalam landskap politik di mana semua pemimpin mempunyai mandat sendiri, dalam demokrasi 240 juta, adalah suatu proses belajar yang tidak akan pernah ada habisnya.

Tentunya dalam 10 tahun, saya banyak membuat kesalahan dan kekhilafan dalam melaksanakan tugas. Dari lubuk hati yang terdalam, saya meminta maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan itu. Meskipun saya ingin selalu berbuat yang terbaik, tetaplah saya manusia biasa.
(Source from here)

Again, Thank You Mr. Susilo Bambang Yudhoyono and welcome Mr. Joko Widodo. God blesses Indonesia …..

SBY

Anyway, this is the first time I write something in Indonesia Independence Day. Guess living abroad made my love to this country growing again

Melbourne, 17 August 2014

To my lovely country, Indonesia Tanah Air Beta

Hey Dude …. This note is for you

Hari ini gw lagi pengen nulis banyak hal …. termasuk obrolan gw sama seorang temen via BBM yang mungkin saja bakalan baca postingan gw kali ini … yeah dude, this note is for you

Cowok …. gw banyak banget punya temen deket cowok, tentu saja di samping beberapa sobat deket cewek yg biasa share banyak hal ama gw. Dan untuk makhluk berlabel cowok, gw banyak punya temen dari yang cuma ngobrol2, diskusi formal, curhat-curhatan pribadi sampai melakukan banyak hal bareng mereka. Ada temen gw yg bilang mungkin karena gw gampang masuk ke dunia mereka dan berpikir dengan cara mereka. Buutttt, semakin gw berteman sama makhluk satu ini, bukannya pengertian yang makin gw dapet. Gw malah makin bingung dengan cara berpikir sebagian dari mereka yang katanya mengandalkan 99 % otak dan 1 % hati … Oyaaaa ? otak yang mana nih ???

COWOK … Sorry ya, bukan maksud gw menggeneralisir. Gw percaya ada cowok baik di luar sana (which Insya Allah will be my future husband … Amiinn 🙂 ). Dan bukannya gw mau bilang elo bukan cowok baik yaa ….

But you know …. Baik aja ga cukup atau lu ga cukup baik klo lo ternyata ga bisa memperlakukan cewek dengan benar. Cateett …. dengan BENAR. Benar di sini bukan berarti manjain, muji2 dengan segala rayuan gombal, beliin barang ini itu …. Benar berarti lo memperlakukan cewek emang selayaknya CEWEK. Sesosok makhluk yang perlu dihargai perasaannya dan pikirannya. Benar berarti lo nganggap cewek bukan sebagai objek pencarian dengan alasan LOOKING FOR THE BEST. Hellowww, kita ini bukan sepatu yang lo cari di mall, lu cobain semuanya sampai lo nemu yang paling nyaman. Atau parahnya, setelah lo beli, lu pake dan bentuknya udah ga karuan, lo tinggal ganti ama yang baru.

Jadi baik aja ga cukup … apalagi kebaikan yang lo andelin jadi senjata buat deketin cewek-cewek yang membuat lo tertarik. Dan terus terang .. yang perlu lo tau, lo ga perlu bangga dengan kebaikan yang satu ini. Apa gunanya kebaikan, klo justru pada akhirnya malah membuat luka pada orang lain.

Gw tau setiap orang berhak mencari yang terbaik buat hidupnya. Ga cowok ga cewek … Tapi satu hal yang perlu lo inget. Lo ga berhak membuat seorang cewek berpikir lo yang terbaik buat dirinya sedangkan di saat yang bersamaan lo juga membuat cewek lainnya berpikiran yang sama (dengan kasus yang tentu saja lo yang membuat mereka berpikir seperti itu). It will hurts much … Dan tidak ada yang bisa menebak reaksi yang ditunjukkan cewek-cewek klo lagi terluka. Dari yang paling wajar sampai yang paling nekat.

Klo lo emang blom bisa dewasa buat milih, plis stop looking for the girls … Karena sekali lagi lo ga akan pernah bisa tau, seberapa dalam luka yang lu tinggalin kalau mereka semua tau apa yang lo lakuin.

Titiran, March 18th 2012 … To whom it may concern 

Self Note ….


Saat ini atau nanti …

Kuserahkan padamu untuk memilih, kapan kau harus berhenti.

Kau sendiri sadar betapa semu nya asa yang kau tanam,
Betapa rapuhnya dahan tempat kau berpegang ….

Teruslah memanjat karena pemandangan di atas sana memang jauh lebih indah …
Tapi ingatlah, dahan tempat kau bergantung sangat rapuh dan kau bisa jatuh kapan saja dengan rasa sakit yang tak terkira …

Pilihan ada padamu ..
Terus berlari mengejar mimpi
Atau bangun dari kenyataan tuk cegah luka di kemudian hari ….

Taken from my other room

Tentang Mengendalikan Hati ….

Seorang teman, pernah begitu sangat terluka ketika kisahnya tidak berakhir bahagia. Saat itu dia memilih untuk terpuruk. Dia memilih mengunci dirinya dalam ruangan penuh air mata. Orang-orang terdekatnya begitu sulit membuatnya bangkit. Ia menolak ketika kami semua mengulurkan tangan, membantunya keluar dari lubang kepedihan yang, begitu jelas buat kami, dibuatnya sendiri. Dan lagi-lagi waktu yang mengobati lukanya. Begitu orang-orang menilai. Tapi buat saya, sesungguhnya bukan waktu … sesungguhnya adalah pilihan baru yang ia buat. Sesungguhnya ketika dia memilih mengendalikan rasa yang selama ini begitu dalam …. ketika dia memutuskan bahwa dia harus mengendalikan hatinya, di sana lah dia menemukan kekuatannya untuk kembali berdiri.

Mengendalikan hati, tidak hanya ketika hatimu terluka atau disakiti sangat dalam, tapi juga ketika bunga-bunga indah bermunculan di sana.

Seorang sahabat lainnya, dekat dengan seseorang yang berbeda keyakinan. Dia merasa sangat nyaman dengan hubungan yang mereka jalin. Hanya pasangannya yang bisa membahagiakan dia, begitu seringkali ia ucapkan. Dan begitu pulalah sebaliknya. Mereka terus mengusahakan agar bisa tetap bersama. Sampai akhirnya mereka sama-sama lelah dengan kebuntuan. Dan ketika mereka mulai dapat mengendalikan hati dengan logika yang mereka punya, mereka memutuskan berpisah baik-baik. Dan kini sahabat tersebut sedang berbahagia menunggu kelahiran anak pertamanya bersama suami yang tentu saja direstui oleh orang tuanya …

Ada begitu banyak cerita lain tentang mengendalikan hati yang tidak mungkin saya ulas satu persatu di sini. Intinya, setiap orang yang mulai merasakan sesuatu yang seringkali mereka sebut sebagai cinta, entah karena pandangan pertama atau karena terlalu terbiasa bersama, akan mudah sekali menyatakan bahwa cinta soal hati bukan logika bukan pula matematika. Tapi benarkah hati tak mampu dikendalikan oleh logika ? Sedang Sang Maha Pencipta telah bermurah hati memberikan akal pada manusia ?

Maka sahabat, tidak ada salahnya engkau punya rasa. Tidak ada larangan untuk jatuh cinta. Tapi biarkan logika yang mengendalikan hatimu dan menentukan langkahmu selanjutnya. Apakah rasa yang kau punya layak untuk kau lanjutkan ? Apakah cinta yang kau tanam akan berdampak pada kebaikan ?

Biarkan akal yang mengendalikan hatimu … Agar cinta yang kau rasa tidak berakhir pada duka, untuk dirimu dan untuk orang-orang di sekitarmu ….

 

Gerlong, October 24th …

#Justmytwocent

(Finally) Tentang Sebuah Jawaban …

Bukan perpisahan … karena aku sendiri tidak yakin akan nyatanya pertemuan
Bukan pula sebuah penyesalan … toh memang tidak hadir suatu kesalahan

Mungkin ini hanya tentang kelegaan yang belum sepenuhnya tercipta
karena kepastian yang didatangkan paksa oleh suatu kenyataan

Sekali lagi …
Tak dapat kusesali ada rasa yang datang tanpa undangan
Tak bisa kusalahkan asa yang kemudian menghadirkan sebentuk impian

Bukankah aku yang memang dari awal memilih menunggu
Dari awal kupersilakan nasib yang menentukan akhir masa penantian
Dan jika ini menjadi akhir sebuah drama kehidupan
pada siapa harus kulayangkan gugatan ?

Hari ini …
Kuucapkan selamat pada rasa yang terbebas dari penjara asa
Kusampaikan salam pada pintu yang tlah menutup sempurna
Tinggallah hati yang mesti menentukan langkah,
keluar ataukah tetap bergeming di dalam penjara asa
berpaling atau tetap menatap pada pintu yang tak lagi terbuka

 

Titiran, July 20th 2011 , 23:44

Sorry for these complaining

One day, You brought me here …
Guide me to my destiny and meet every journey that I’ve never expected before.
You made my journey easier and easier.
You delivered me some people to accompanied me through my steps.

So, what’s wrong if you take them back and replace with others
Do I have to complain ?

And with all of Your Kindness,
You didn’t take all …
You left numbers behind ….
So, Do I have any rights to complain ?

God, So sorry for any complaining before
You send me much even I don’t know if I deserve that